Jalur Tebing yang Sebaiknya Dilalui dalam Diam: Terowongan Perang Songaksan
waktu terukir dalam batu yang diam
Songaksan, di Daejeong-eup, Seogwipo, dikenal luas karena pemandangan tempat oreum dan laut bertemu dalam satu pandangan. Menyusuri jalur yang mengelilinginya, tebing gelap dan laut lepas silih berganti terlihat, menarik banyak wisatawan yang berhenti untuk berfoto. Namun di balik pemandangan ini tersimpan waktu yang berbeda, yang tampaknya tidak banyak diketahui pengunjung. Tersebar di sepanjang tebing pesisir Songaksan, ada terowongan-terowongan yang konon digali oleh militer Jepang menjelang akhir Perang Pasifik. Hari ini, alih-alih melewati jejak sunyi ini begitu saja, GYULI ingin berhenti sejenak dan menyusuri waktu itu bersama-sama.
Jejak Perang, Terukir ke Arah Laut
Menyusuri jalur Songaksan, kamu akan menemukan terowongan berbagai ukuran yang digali rendah ke dalam tebing pesisir. Ini konon adalah benteng gua yang dibangun oleh militer Jepang saat Perang Pasifik memasuki masa-masa terakhir yang paling putus asa. Kapan tepatnya atau seberapa besar skala pembangunannya memang tidak bisa dipastikan dalam tulisan ini, tetapi banyak yang mengatakan bahwa Jeju saat itu dianggap sebagai titik strategis penting untuk mempertahankan daratan utama Jepang, dan sejumlah benteng dibangun di sepanjang pesisirnya dalam proses tersebut. Terowongan Songaksan konon termasuk salah satu jejak yang tersisa dari masa itu.
Aku rasa, bahkan di balik pemandangan yang indah, ada waktu yang terukir di dalamnya yang tidak seharusnya kita lupakan.
— 🍊 GYULIAda beberapa cerita tentang apa sebenarnya fungsi terowongan-terowongan ini. Sebagian mengatakan dibangun untuk menyembunyikan kapal-kapal kecil guna mencegat kapal yang mendekati pesisir; sebagian lain mengatakan berfungsi sebagai benteng untuk menyembunyikan pasukan dan perbekalan. Apa pun itu, konon warga Jeju saat itu juga dipaksa untuk ikut serta dalam pekerjaan pembangunan tersebut — sebuah detail yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Di dalam terowongan gelap ini, yang kini hanya dilalui suara ombak, sepertinya waktu yang melelahkan yang dipikul orang-orang di masa itu masih terukir di dalamnya.

Momen yang Membuatmu Berhenti di Jalur Ini
Jalur Songaksan pada dasarnya adalah jalur pesisir yang terkenal dan dihargai karena pemandangannya. Pemandangan dari puncak, yang mencakup laut, Sanbangsan, dan pulau-pulau kecil Hyeongjeseom, sering dianggap sebagai salah satu pemandangan khas Jeju. Namun berdiri di depan terowongan perang di jalur yang sama, banyak pengunjung konon menggambarkan suasana hati yang cukup berbeda dari yang mereka rasakan beberapa saat sebelumnya. Mungkin justru karena keindahan dan kepedihan berdampingan di jalur yang sama inilah tempat ini cenderung lebih lama membekas di ingatan.
Di dekatnya, jejak Lapangan Terbang Alddreu, yang konon dibangun oleh militer Jepang pada masa penjajahan, juga masih tersisa, dan sebagian pengunjung konon menjelajahi kedua tempat ini bersamaan untuk merenungkan masa yang sama itu. Meski terowongan Songaksan dan Lapangan Terbang Alddreu berada di lokasi yang berbeda, keduanya sering dianggap sebagai tetangga yang berbagi jejak dari era yang sama.
Konon cara orang mengunjungi tempat ini perlahan berubah belakangan ini. Alih-alih hanya mengejar pemandangan indah, semakin banyak pengunjung konon datang ke Songaksan dengan apa yang bisa disebut perspektif wisata gelap, berharap belajar dan mengenang jejak masa lalu ini. Mendengar bahwa ada yang menyusuri jalur ini dengan keyakinan bahwa sejarah yang menyakitkan dan tidak nyaman harus terus dilihat dan dibicarakan agar tidak dilupakan, GYULI pun ikut merasakan beratnya hal itu.

Di Depan Jejak Ini, Apa yang Masih Bisa Kita Jaga
Terowongan perang Songaksan bukanlah objek wisata yang dipoles rapi. Tanpa papan penjelasan, sebagian besar hanya tersisa sebagai lubang gelap yang terukir di tebing, mudah dilewati tanpa dilirik dua kali. Namun berhenti sejenak di depan pintu masuk gelap itu, dan membiarkan pikiranmu kembali ke masa itu, mungkin sudah cukup untuk sedikit lebih memahami mengapa jejak ini masih bertahan. Sebagian besar bagian dalam terowongan konon belum dipastikan keamanannya, jadi daripada masuk ke dalam, sebaiknya lihat saja dengan tenang dari jalur saat kamu lewat.
Jika kamu memasukkan Songaksan dalam rencana perjalanan ke Jeju, aku berharap kamu juga meluangkan pandangan untuk jejak sunyi ini, selain pemandangan indahnya. Alih-alih mengabadikan satu foto, cukup meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan waktu yang dipikul orang-orang yang pernah berdiri di tempat ini rasanya sudah cukup. Aku percaya, setiap momen singkat dan hening seperti itu, sedikit demi sedikit, membantu jejak ini tetap dikenang dan dijaga untuk waktu yang lama.






Tips GYULI · Terowongan perang Songaksan dapat ditemukan di sepanjang jalur Songaksan di Daejeong-eup, Seogwipo. Karena bagian dalam terowongan bisa berisiko seperti batu yang jatuh, sebaiknya jangan masuk ke dalamnya, dan karena rute jalur atau bagian yang dibuka bisa berubah tergantung musim dan kondisi, sebaiknya cek dulu sebelum berkunjung.